Abdurrahman Wahid

Latar Belakang Keluarga 
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru". Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.
Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Adian Husaini MA

Lahir : 17 Desember 1965 di Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia,  .  Pendidikan : -   Madrasah Diniyah Nurul Ilmi Bojonegoro (1971-1977),  -   Pondok Pesantren Ar Rasyid Kendal Bojonegoro (1981-1984),  -   Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor (1988-1989),  -   dan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, LIPIA Jakarta (1988).  -   Gelar Master dalam bidang Hubungan Internasional diperoleh dari Pasca Sarjana Program Hubungan Internasional Universitas Jayabaya Jakarta, dengan tesis berjudul PRAGMATISME POLITIK LUAR NEGERI ISRAEL.  -   Saat ini sedang menempuh pendidikan program Ph.D. di Institute of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM).  Aktiviti ilmiah dan organisasi : -   peneliti di Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, -   peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST), -   Staf di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PKTTI-UI) Jakarta.  -   Menjabat sebagai Sekjen Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam/KISDI, Sekjen Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), dan Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI).  -   Pernah menjadi wartawan di Harian Berita Buana Jakarta, Harian Republika Jakarta, dan -   analis berita di Radio Muslim FM Jakarta,  -   Serta dosen Jurnalistik dan pemikiran Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan Pesantren Tinggi (Ma’had ‘Aly) Husnayain Jakarta  Pemikiran Dalam bukunya yang berjudul WAJAH PERADABAN BARAT yang diterbitkan oleh GIP

Amin Rais

Tempat Dan Tanggal Lahir
Amien Rais lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya, adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor Departemen Agama. Sang ibu, Sudalmiyah, adalah alumni Hogere Inlandsche Kweek­school [HIK] Muhammadiyah, kemudian menjadi aktivis Aisyiyah dan pernah menjabat sebagai ketuanya di Surakarta selama dua puluh tahun.
Riwayat Pendidikan
            Pendidikan Amien Rais, mulai dari TK sampai SMA, semuanya dijalani di sekolah Muhammadiyah, di kota kelahirannya, Solo. Menurut Amien, karena kecintaan sang ibu pada sekolah Muhammadiyah, maka seandainya ketika itu sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah, pasti ibunya akan memintanya untuk kuliah di situ. Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1956, kemudian SMP pada tahun 1959 dan SMA pada tahun 1962. Di samping sekolah umum, ia juga mengikuti pendidikan agama di Pesantren Mamba’ul Ulum. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Al Islam.
            Setelah tamat SMA, ibunya menginginkan Amien melanjutkan studinya ke Al-Azhar, Mesir. Sementara ayahnya lebih memilih Universitas Gajah Mada [UGM]. Amien tampaknya lebih cocok dengan pilihan sang ayah. Ia kemudian diterima di dua fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Fisipol UGM. Ia lalu berkonsultasi dengan sang ayah, mana fakultas yang lebih baik untuk dipilih. Sang ayah menyerahkan kembali pada Amien untuk memilihnya. Akhirnya ia memilih Fisipol. Mungkin untuk tidak mengecewakan harapan sang ibu, Amien juga kemudian mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah.

DIN SYAMSUDDIN

Sirajuddin Syamsuddin, demikian nama lengkap Din. Lahir di Sumbawa Besar pada 31 Agustus 1958, dari keluarga muslim konservatif. Pada usia 14 tahun, ia masuk ke Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di pondok tersebut, ia banyak belajar tentang Islam.
Setelah dari Gontor, pria yang fasih berbahasa Inggris, Arab, Persia, dan sedikit Prancis ini, melanjutkan sekolahnya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Di kampus IAIN ia belajar politik dan terpilih sebagai salah satu fungsionaris pemuda Muhammadiyah di universitas tersebut. Gelar masternya diraih dari University of California at Los Angeles (UCLA), AS pada 1982. Dari universitas yang sama dia mendapatkan gelar doktor pada 1996. Sejak itulah ia makin intens terjun dalam dunia organisasi.
Khusus untuk Muhammadiyah, Din Syamsuddin pernah menjabat sebagai Ketua DPP Sementara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1985. Kemudian menjabat Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah 1989-1993. Setelah muktamar di Banda Aceh pada 1995, menjadi anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah dan dalam periode kepengurusan Syafii Maarif 2000-2005, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Muhammad Jusuf Kalla

MUHAMMAD JUSUF KALLA
Oleh: Faisal

Muhammad Jusuf Kalla adalah putra Makassar yang juga merupakan pengusaha dengan bendera Kalla Group, yang memiliki berbagai jaringan bisnis di berbagai bidang. Sebelum terjun ke dunia politik, tokoh yang lahir di Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 ini juga menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini Jusuf Kalla yang di masa mudanya disapa dengan Daeng Ucu ini masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Alumni Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006.
Ayahnya, H. Kalla, seorang pengusaha dan tokoh Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan, ibunya juga berjualan sarung sutra Bugis. Usaha yang dirintis orang tuanya ini kemudian berkembang di tangan generasi keduanya yang dinakhodai Jusuf Kalla. Lulusan S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967, ini dari sejak usia muda memang sudah sering diikutsertakan dalam usaha, membantu orangtua. Sehingga ia dapat mengerti persoalan dalam dunia usaha

QURAISY SYIHAB

            Muhammad Quraisy Syihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan pada tanggal 16 Februari 1944 M. setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil nyantri di pondok pesantren darul hadits al-faqihiyah. Pada tahun 1958, ia berangkat ke Kairo, Mesir dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada tahun 1967 M. ia meraih gelar LC (S-1) pada fakultas ushuluddien jurusan tafsir dan hadits Universitas Al-Azhar, kemudian ia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama. Dan pada tahun 1969 M . ia meraih gelar MA  (S-2) untuk spesialisasi bidang tafsir Al-Qur’an dengan tesis berjudul : “ Al-I’jaz al-Tasyri’iy li Al-Qur’an al-Karim.”
            Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraisy Syihab dipercayakan untuk menjabat wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti koordinator perguruan tinggi swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti pembantu pimpinan keplisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, ia juga sempat melakukan berbagai penilitian; antara lain, penelitian dengan tema: “ penerapan kerukunan hidup beragama di indonesia timur.” Pada tahun (1975) dan “ masalah wakaf sulawesi.” (1978).

SENI BERTANYA

Ilmu layaknya perbendaharaan yang kuncinya adalah bertanya. Sebagaimana disebutkan para ulama tahap pertama untuk memperoleh ilmu adalah dengan bertanya. Ketika seseorang mampu bertanya dengan baik maka dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan apabila dia gagal maka tidak ada kebaikan yang dia peroleh. Yakni pintu kebaikan akan tertutup darinya. Tentang hal ini Abu sulaiman al Ghonawi berkata: "Tanyalah kepada faqih niscaya engkau akan menjadi seperti dirinya".
Mencoba mengkaji lebih dalam, maka akan kita dapati ketrampilan bertanya dapat mengantarkan seseorang kepada kedudukan ilmu yang tinggi. Sebagaimana kisah Abdullah Ibnu Abbas . Beliau adalah shahabat yang muda usianya dan luas ilmunya. Dan ketika ditanya tentang rahasia beliau mendapatkan kedudukan tersebut, maka dijawab: "Dengan lisan yang banyak bertanya dan hati yang selalu berfikir".
Sayangnya ketrampilan bertanya sering diremehkan. Padahal Ibnu Umar pernah berkata: "Bagusnya pertanyaan merupakan setengah dari ilmu". Akibatnya pertanyaan yang diajukan kurang mendatangkan manfaat. Alih-alih mendatangkan mafsadat. Bukan bagi dirinya sendiri tapi juga orang lain.
Oleh karenanya agar pertanyaan dapat mendatangkan keberkahan ilmu dan kebaikan maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

PPI Darur Robbani